Efektifitas pemilu 2009

Tidak terasa dalam beberapa hari kedepan pemilu akan berlangsung. Caleg-caleg pun semakin gencar melancarkan aksi kampanyenya. Di kotaku contohnya, Banda aceh, peralatan kampanye seperti gambar-gambar partai dan caleg terlihat begitu banyak bersebaran. Bagus memang, dengan gambar-gambar tersebut mungkin masyarakat sedikitnya dapat mengenal caleg-caleg yang akan menduduki kursi dewan nantinya. Tidak hanya itu, bahkan di radio-radio juga banyak para caleg yang mempromosikan dirinya, begitu pun di warung-warung kopi maupun di tempat-tempat lainnya banyak caleg yang langsung turun “face to face” menarik simpati masyarakat. Dalam satu sisi aku kagum akan kelincahan caleg ini untuk mendapat hati masyarakat setempat. Tiap-tiap calon legislatif saling bersaing agar masyarakat dapat menganggapnya sebagai yang nomor satu. Yah, perjuangan tanpa henti, semangat ini yang pantas kita kagumi.

Saya justru teringat pada pelajaran yang saya pelajari tadi di kampus. Pada waktu itu dosen saya mengatakan bahwa dalam psikologi komunikasi ada sebuah pendapat yang menyatakan tentang keefektifan sebuah komunikasi. pendapat ini dikemukakan oleh Tubb dan sylvia moss yang mana komunikasi akan dikatakan efektif apabila dapat menumbuhkan rasa pengertian yang benar antar masing-masing pihak, menimbulkan perasaan senang, hubungan sosial berjalan dengan baik, dan segalanya dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan yang nyata.

Nah, dari sinilah saya berfikir. Apakah proses komunikasi yang berlangsung pada pemilu 2009 ini telah dinyatakan efektif? Ketika kuliah tadi kami sempat berdiskusi kecil dengan dosen mata kuliah tersebut. Dari hasil diskusi tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh caleg-caleg sekarang ini dapat dinyatakan efektif, tetapi hal ini masih diambang-ambang. Para caleg telah menjalankan semua kriteria keefektifan komunikasi yang dijelaskan oleh Tubb dan Moss tadi. Caleg mencoba semua cara untuk mempengaruhi masyarakat dan masyarakat pun menerimanya dengan suka rela.

Pun begitu, realita menyatakan bahwa walaupun proses komunikasi antara caleg dan masyarakat telah terjalin dengan baik, dimana caleg dapat menunjukkan aspirasinya kepada masyarakat dan masyarakat juga memberikan feedback kepada caleg tersebut. Ada sebuah permasalahan yang justru harus sangat diperhatikan sekarang. Partai dan caleg tersebut boleh saja berbicara, akan tetapi seperti yang kita ketahui keberadaan partai sekarang ini tidak hanya satu, dua ,ataupun sepuluh! Bahkan begitu banyak partai-partai yang terlibat dalam pemilu 2009 ini. Tentu saja ini membingungkan masyarakat, dalam pemilihan nantinya masyarakat dituntut agar memilih salah satu partai dan caleg yang dipercayainya. Padahal mereka mungkin mempercayai beberapa orang caleg dari partai-partai berbeda yang dianggap baik baginya, entah itu kenalan atau saudara mereka. Dan ini menjadi pertimbangan berat bagi mereka untuk menentukan yang mana yang akan dicontreng ketika pemilihan nanti. Saya teringat perkataan salah seorang teman saya, seperti ini katanya : “ kayaknya buat pemilu tanggal 9 nanti aku ga ikutan deh, bingung mau pilih siapa, soalnya banyak banget partai dan caleg tahun ini. Biar saja golput. Yang penting itu ketika pemilihan presiden nanti, baru aku milih!”.

Keberadaan partai politik yang begitu banyak telah menimbulkan permasalahan tersendiri. Selain membuat masyarakat menjadi kebingungan. Sistem politik pun menjadi tidak seimbang. Rasa persaingan yang tinggi antara masing-masing partai muncul. Bahkan persaingan pun justru rentan terjadi antara masing-masing anggota partai itu sendiri yang memperebutkan suara terbanyak untuk memperoleh kursi dewan nantinya. Segala cara pun dilakukan, walau kadang-kadang cara tersebut justru menyimpang dari ketentuan yang ada. Hukum rimba pun berlaku, pihak yang kuat dialah yang dapat menduduki kursi dewan itu.

Jika hal tersebut terjadi, bukankah tujuan dari pemilu sebenarnya telah melenceng? Jika “ego” telah menguasai mereka, pasti ujung-ujungnya masyarakat yang menjadi korban. Masyarakat dituntut untuk memilih, pilihan masyarakatlah yang menentukan posisi pemimpin kedepannya. Jika pilihan masyarakat benar, maka sejahteralah masyarakat. Dan jika salah, berbahagialah pemimpin-pemimpin tersebut di atas kesengsaraan masyarakat.

Akankah masyarakat dapat memilih pemimpin yang benar jika mereka harus dibingungkan dengan pilihan-pilihan yang cukup banyak? Benar atau salah tak ada yang dapat menebak. Bahkan golput pun rentan menjadi pilihan masyarakat.

Jika seperti ini, dapatkah pemilu 2009 dikatakan efektif?wallahu’alam….(31/03)

Satu Tanggapan to this post.

  1. Posted by Acha on 01/04/2009 at 09:04

    Saya termasuk orang (pemilih) yang bingung seperti yang Saudara tuliskan.
    Tapi, Saya tidak mau ”kalah” oleh kebingungan tersebut. Walaupun dengan segala keterbatasan, Saya akan memaksimalkan ikhtiar untuk dapat menentukan pilihan terbaik dari sekian banyak pilihan.
    Meskipun akhirnya Saya tetap bingung, tetapi setidaknya Saya telah berusaha dan tidak akan merasa dibodohi oleh mereka.

    Selamat menentukan pilihan terbaik.

    Balas

Tanggapi posting ini