Senin,30/03/09.
Hari itu seperti biasa aku duduk bersama temanku di kantin, suasana tetap seperti biasa, ramai dengan mahasiswa yang asik mengisi perut-perut mereka yang kosong. Ketika itu temanku curhat padaku, katanya dia sudah tak bisa eksis mengabdi di Lampu komunikasi lagi, rasa pesimisnya terhadap lembaga pers ini telah menguasai egonya untuk memilih meninggalkan pers mahasiswa. Dan dia lebih senang memilih bagian penyiaran yang mungkin akan digelutinya dalam beberapa bulan kedepan. Jujur saja aku kecewa dengannya. Bukan hanya dia, tapi masih ada beberapa anggota lagi yang sudah tidak bersemangat lagi menjadi bagian dari pers mahasiswa. Tak cocok dengan bakat, begitu kata mereka. Terang saja ini sudah menjadi masalah intern bagi Lampu Komunikasi itu sendiri. Jika anggotanya sudah tak memiliki semangat sebagai insan pers lagi, maka proses pers yang berjalan menjadi tidak eksis lagi. Berdasarkan pengalaman yang saya dapati saat mengikuti evaluasi pers mahasiswa di sabang dulu, ada dua masalah yang menjadi kendala terhadap pengembangan pers mahasiswa. Intern dan ekstern. Masalah intern merupakan permasalahan yang datang dari dalam lembaga itu sendiri, contohnya seperti kejadian di atas tadi dimana anggotanya tidak lagi konsisten terhadap pers mahasiswa itu sendiri. Permasalahan ini kerap terjadi pada tiap-tiap pers mahasiswa, bahkan sering kali dalam pers mahasiswa hanya beberapa anggota saja yang tetap bertahan menjalankan tugas persnya dngan eksis, dan anggota lain acuh tak acuh terhadap kegiatan pers ini. Jika permasalahan ini trus melekat pada anggota-anggota pers, dimana rasa kesungguhan untuk bekerja sudah sangat berkurang, bukankah anggota-anggota yang seperti ini lebih baik dilepaskan saja, daripada hal tersebut hanya menjadi beban terhadap pers mahasiswa dan anggota lainnya, lebih baik mereka diganti dengan mahasiswa lain yang lebih bersungguh-sungguh mengayomi dirinya sebagai insan pers. Karena pers mahasiswa tidak butuh orang-orang yang tak memiliki semangat pers. Biar saja mereka mengayomi pilihan mereka masing-masing, dan itu hak mereka, mungkin pers mahasiswa bukan kehidupan mereka.
- **