Kamis, 13/08/2009. Banda aceh.
Hidup adalah realita yang bepurtar. Slalu berubah beriring dngan sgala tingkah pelakonnya. Orang2 katakan, hidup itu anugerah yg tidak pantas disia-siakan. Hidup diukur dalam perjalanan waktu, panjang jarak yg ditempuh dan seberapa besar usaha untuk mengayominya. Tiap detik waktu yg kita habiskan, tiap senti jarak yg kita tempuh dan tiap newton daya yg kita keluarkan untuk sebuah kehidupan begitu berarti. Karena hidup tak bermakna jika kita tak melakoninya dengan baik. Hidup adalah panggung sandiwara, pilihan dimana kita harus memilih tuk menjadi tokoh protagonist atau antagonis. Pilihan untuk manjadi berarti ataukah tidak berarti.
Inilah yang aku rasakan skarang, ketikaku merasa hidup ini menjadi tak berarti. Tentunya kamu tau bagaimana bentuk sebuah patung? Yup, itulah aku yang dapat diibaratkan sebuah patung. Berwujud tapi tak bergerak, terdiam tanpa bisa berbuat banyak. Raga boleh saja ada disini, berwujud, bergerak-gerak sesuka hatinya. Tapi jiwa ini terasa hampa tak bermakna. Kosong. Melayang-layang entah kemana, membuat raga menjadi tak bermakna. Tak elak batinku mengejekku : “ kau tak ada bedanya dengan sebuah Barbie sayang! Hanya bisa dipermainkan, tak pernahkah terbersit olehmu tuk membuat hidupmu jadi lebih bermakna? Kau hanya boneka bloon, terduduk diam tak berarti!”
Siapalah diriku ini!!!
Terlihat olehku selembar kertas ptih polos. Mungkin itulah aku, bak kertas putih kosong yg diisi oleh coretan-coretan yang tak jelas bertuliskan apa. Kertas putih yang telah robek, ksut tak berbentuk karenaku tlah membiarkan tangan menorehkan tinta yg salah pada kertas itu. Dan inilah diriku, kertas putih yg telah hancur, sebuah Barbie usang tak menarik.
Kau lihat dirimu skarang put!! Hhh..betapa menyedihkan, cupu , seolah-olah kamu kehilangan sebelah sayapmu. Kau kemanakan semngat dan komitmenmu yg menggebu2 itu?? Benarlah jiwamu telah hilang, meninggalkan raga yang kosong tak lagi berpenghuni. Sudah saatnya kau menyupplai kembali ragamu itu sayang! Panggillah kembali jiwamu yang telah bermain-main meninggalkanmu, karena diakan kembali jika kau memanggilnya kembali.
Jiwamu itu telah kotor sayang! Lupakah kamu pada pelajaran psikologi yang pak Darwis ajarkan?? Raga dan fikiranmu tak berarti jika jiwamu itu tak kau pedulikan. Panggillah jiwamu kembali kealam bawah sadarmu itu, kendalikan jiwamu itu sayang! Bersihakn dia dari debu2 jalanan. Jgan kau biarkan raga dan fikiranmu itu kembali hampa.
Baiklah…! Mungkin slama ini aku telah terlalu berleha-leha, dimanjakan oleh hidup. Dan aku memang pantas menyandang gelar tokoh paling buruk dalam menjalani naskah sandiwara hidupku ini. Aku biarkan diriku ini retak, menjadi sorang manusia yang begitu pesimis terhadap dirinya sendiri. Tak ada yg bisa kubanggakan dari diri ini, buat apalah IP 3,86 yg tertoreh di atas lembaran kertas itu? Tak penting!! Karena tak ada yg berubah dari hidupku ini, dan aku masih menganggap diriku ini sebagai parasit bagi orang-orang disekitarku.
Aku tau, kalau aku bgitu lemah. Tak berani menerima tantangan yg ada, tak berani komitmen pada prinsip. Dan aku, masih bersembunyi dibalik topeng yg menutup wajah asliku. Bahwa aku tak seperti orang-orang fikirkan. Aku slalu merasa lebih buruk dari yg mereka anggap. Maaf, aku terlalu pengecut untuk menampakkan siapa diriku sebenarnya.
Dalam setiap sujudku yang tak jelas dan tak pernah bisa kutingkatkan sepenuhnya. Dalam tiap doaku yg slalu sja terputus oleh rayuan-rayuan yg bgitu hina. Dalam setiap harapku dan hasratku tuk membentuk diri yg tak pernah bisa sempurna. Hatiku slalu sja bermohon dan tersedu-sedu meminta kepada-Nya untuk memberiku kelapangan… agar aku bisa tegar menghadapi semua sisi buruk yg ada dalam diriku ini. Sisi yg slalu saja menjadi raja penguasa hatiku ini..sisi yg telah membuatku begitu malu, karena mnjadikan ku bgitu angkuh dan mlupakan sang pencipta-ku…
Kenapa jiwaku ini tak pernah merasa tenang???
Rabbi, biarkan hamba-Mu ini mengarungi nasib yg belum pasti arah dan tujuannya ini. Tapi jnganlah sesatkan hamba Rabb. Karena aku tak mampu mencari arah yg begitu bercabang menghadangku nantinya. Jgan pilukan hamba Rabb, karena hati ini masih begitu lemah akan iman…
Rabb, aku masih ingin mengingat-Mu, walau ku masih sering lupakan Kewajiban2ku. Aku takut akan nerakaMu, walau surga tak pantas bagiku.
Rabbi, Tuhanku..Maha pengatur sgala ketenangan dan kegelisahan jiwa. Jgan biarkan hamba jauh dari-Mu, karenaku takkan mampu.
Bangkitkanlah komitmen dalam diriku ini wahai Tuhan yg maha pengasih…
Bebaskan hatiku dari selaput yg membungkusnya. Bukalah topengku…dan segarkan jiwa dan ragaku agar dapat berpadu menjalankan hidup dengan semestinya.
14 Agu