Nasehat Seorang Ayah

Lagi agak malas nulis ne. Belakangan ini aku tak punya ide apapun yang harus kutuangkan di blogku ini. Kebanyakan isinya hanya curhat-curhatan gaje. Jadi muales ne. Bawaan sendu melulu. Kebanyakan keluh kesahnya aja. Pengen sih nulis yang agak bermutu dikit. Tapi susah. Soalnya kebiasaanku yang sering kelupaan baca buku ga bisa kutinggalin (sengaja dilupain kali!). Padahal bukuku ada banyak tuh. Itung-itung buat pustaka pribadi. Koleksi sih hobi. Tapi bacanya susah, kasian ni otak dah encer gini ga diasah-asah (bahh..!!).

Jadi ingat orang tuaku di kampung. Apa kabarnya yia???
Kalau dipikir-pikir, kehidupanku saat ini tergolong sangat bahagia. Makan enak, fasilitas kuliah lengkap, jajan bulanan selalu ada. Pokoknya serba enaklah kuliahku sekarang. Jauh berbeda dengan keadaan saat orang tuaku kuliah dulu. Seharusnya aku bersyukur, karna lahir dan kuliah saat kondisi keuangan orang tuaku baik. (aku jadi merasa bersalah karna sekarang ini aku sering membuat orang tuaku kecewa ;3)

Dulu, Abuku lahir di keluarga yang sangat sederhana. Bahkan kakek dan nenekku harus kerja keras untuk membiayakan tiga orang anaknya. Sejak kecil, abuku tak diajarkan manja. Abuku harus bekerja membantu nenek dan kakekku. Turun ke sawah, mencari getah karet, menanam nilam dan usaha kios kecil-kecilan.
Abuku itu tak pernah mengikuti sekolah sampai selesai. Tak ada uang. SD cuma bisa beberapa tahun. Begitupun SMP dan SMA. Tapi karna kondsi saat itu tidak sama seperti sekarang, berkat bantuan guru-gurunya alhamdulillah abuku bisa mendapatkan ijazah kelulusan dan melanjutkan kuliah S1 Jurusan B.Arab di IAIN Ar Raniry B.Aceh.

Ketika remaja dulu. Abuku sempat belajar ilmu agama ke pesantren yang ada di Labuhan Haji bagian Selatan Aceh sana. Dengan modal ilmu agama itulah, abuku tumbuh menjadi lelaki yang taat dan berjiwa besar. Hidup abuku terlepas dari tanggung jawab kakek dan nenekku. Sekian tahun abuku tak pulang ke kampung halaman demi menuntut ilmu agama. Setelah puas belajar di Labuhan Haji, abuku menuju Kota Meulaboh setelah beberapa lamanya di kampung. Abuku mendapat kabar dari beberapa tengku katanya ada pesantren yang bagus di Kota itu. Di Babussalam. Ketika itu ada Ulama yang sangat berpengaruh di wilayah itu. Beliau mengelola PonPes dan telah memiliki banyak santri.

Foto Abu & Mama di Mueseum Tsunami

Masa yang sangat berkesan bagi abuku. Di tengah hujan lebat dan sudah sangat larut malam. Abuku harus berkali-kali mondar mandir mencari-cari arah Babussalam itu berada. Tidak ada ada motor. Abuku hanya bermodalkan kakinya saja. Terlebih lagi dikarenakan hujan yang sangat lebat, kota Meulaboh yang belum sepenuhnya beraspal tergenang air hingga sampai di bawah lutut abuku. Beliau hampir saja pasrah. Tapi mengingat ketika itu beliau tak tau harus ke mana lagi, dengan sabar dan terus melihat-lihat kondisi jalan yang sudah sangat gelap (tak ada lampu jalan), abuku terus berusaha mencari jalan menuju Babussalam. Abuku hanya mendapat informasi bahwa jalan masuk ke Babussalam ada pohon Rumbia di simpang jalannya itu. Toh kondisi sangat gelap dan hujan, sangat sulit melihat dan membedakan pohon-pohon yang ada. Setelah beberapa jam mencari, dan digong-gongin anjing akhirnya abuku tiba juga ke tempat tujuannya.

“Yang penting abu harus bisa sampai ke sana. Kalau tidak, sia-sia saja usaha abu ke Meulaboh. Abu hanya ingin dapat belajar ilmu Agama lebih dalam lagi”, kata abuku.

Nah, ketika kuliah. Kata abuku, beliau kuliah dengan biayanya sendiri. Abuku menjadi guru ngaji dan ustad muda di daerah kosannya. Dan ketika itu abuku sangat disegani oleh warga setempat. Abuku tinggal di rumah Pak Abu Bakar, yang sekarang ini menjadi pengusaha ternama di Banda Aceh. Pemilik Pante Pirak yang sudah memiliki cabang di mana-mana di kota Banda Aceh. Dulunya rumah Pak Abu Bakar itu belum sebesar sekarang. Rumahnya di Prada, dan sekarang sudah tidak dipedulikan lagi setelah rusak karna tsunami. Abuku tidak membayar ongkos sewa rumahnya. Ketika itu Pak Abu Bakar itu sangat menyenangi abuku. ;) . Pante pirak awalnya ada di daerah sekitar Mesjid raya. Itu swalayan Pak Abu yang pertama setelah beliau sukses menjalankan usaha kecil-kecilan di Pasar Aceh dengan modal seadanya.

Setelah lulus kuliah, Abuku dipercayakan untuk menjadi asisten dosen di kampusnya. Uang gajinya dipakai untuk membiayai kebutuhan sehari-hari (ketika itu ayah tak lagi tinggal di rumah Pak Abu karna sudah menikah dengan mamaku). Kata ibu kost abuku (yang alhamdulillah masi ada sampai sekarang), abu dan mamaku hidup sangat sederhana. Bahkan, walaupun keadaan sangat susahpun orang-orang tak bakal mengetahuinya. Karna mereka selalu keliatan bahagia dengan kondisinya. Mereka makan seadanya, walau hanya dengan ikan asin saja. (sangat berbeda denganku sekarang yang selalu makan enak)

Abuku lulus PNS dengan mudah setelah pulang ke Meulaboh. Awalnya dipercayakan untuk menjadi salah satu pegawai di DEPAG. Setelah itu, tinggal menghitung tahun. Karier abuku semakin membaik. Menjadi kepala sekolah di MTsN dan MAN hingga sekarang ini menjadi Kepala Dinas Syariat Islam Nagan Raya. Dari hanya bermodalkan kaki (jalan ke sana-sini). Sekarang mencecapi hasilnya.

“Modal sukses itu harus jujur dan tekun. Tidak boleh banyak mengeluh. Yang penting, fokus terhadap apa yang diinginkan jangan plin plan. Ikuti saja hati nurani”, itu nasehat Abuku.

Over all. I LOVE MY FATHER N MOTHER. Maafkan aku, yang belum bisa membuatmu bangga. Mungkin, kalau abuku tau keadaanku yang sekarang ini (malas-malasan, manja dengan fasilitas dan tak patuh pada nasehatnya) beliau akan sangat sedih. T.T
Doakan saja anakmu ini. Aku akan usaha untuk kebahagiaan kedua orang tuaku. Terima kasih buat jerih payahmu.

2 Tanggapan

  1. modal sukses itu jujur dan tekun…manis sekali kata-kata ini. salam kenal.

    • makasie…:)
      Salam knal kmbali,
      sering2 kasi masukannya ya..

      ini blogku yg lain aneukabumamak.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.